Diskusi Buku Sewelasan Perpustakaan EAN Edisi
#6 Rabu 11 Februari 2015
Borobudur dan
Peninggalan Nabi Sulaiman
Memasuki separuh perjalanan
dibulan Februari, tepat pada tanggal 11, ada kehangatan berbeda yang
terasa di Pendopo utama Rumah Maiyah Kadipiro yang terletak di jalan Wates Gang
Barokah, Bantul, Yogyakarta. Sore hari, di ruangan terbuka yang cukup luas itu
sudah nampak tikar-tikar yang tergelar rapi, deretan meja-meja kecil yang
tertata, peralatan soundsystem yang tegak dibeberapa sudut, layar televisi
yang stand by, juga
halaman depan yang bersih dan terkondisikan. Ditemani langit senja yang permai,
tak ketinggalan tampak beberapa penggiat rumah Maiyah yang berseliweran,
berbenah, dan menyiapkan diri menyambut “tamu”.
Malam itu, Perpustakaan
EAN bersama
aktivis Rumah Maiyah, kembali menyelenggarakan diskusi buku rutin Sewelasan edisi #6, kali ini membedah dan
mendiskusikan buku yang sudah cukup populer, kontroversial, dan mendapat
sambutan luas dari khalayak: “Borobudur dan Peninggalan Nabi Sulaiman”
karya KH. Fahmi Basya. Antusiasme masyarakat, terutama kalangan muda-mudi
terhadap tema diskusi, terasa spesial malam itu. Selepas adzan Maghrib, satu
persatu hadirin diskusi buku memasuki gerbang rumah Maiyah dan menempatkan diri
di gelaran tikar. Setelah Isya’ jamaah diskusi terlihat mulai memenuhi pendopo,
panitia memutarkan DVD “Borobudur”, sebagai ‘hidangan pembuka’ pra-diskusi.
Selain penulis buku KH. Fahmi Basya, perpustakaan EAN, malam itu juga menghadirkan Sabrang Mowo Damar
Panuluh, fisikawan dan matematikawan muda lulusan Alberta University, Canada, yang
publik tanah air lebih mengenalnya sebagai Noe, vokalis Letto
Band. Jalannya diskusi malam itu
dimoderatori langsung oleh Ibu Nadlrotussariroh, kepala perpustakaan EAN Kadipiro.
Teori “Blawur-itas” Kebenaran
Pukul delapan malam, kedua pembicara dan moderator sudah siap di tengah
hadirin. Diskusi dibuka oleh Ibu Nadlrotussariroh dengan memberikan kilasan
singkat mengenai forum diskusi buku Sewelasan Perpustakaan EAN yang sudah
bergulir
enam edisi dengan berbagai tema dan buku. Sekedar berbagi informasi, beliau
menyampaikan bahwa edisi bulan lalu, buku yang didiskusikan adalah Sekolah Biasa Saja karya Toto Rahardjo. Selanjutnya,
beliau menunjuk mas Sabrang MDP sebagai pembicara pertama untuk memberikan
pengantar diskusi, sekaligus mengemukakan ulasan-ulasannya mengenai buku
Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman.

Sabrang menyampaikan ucapan
terima kasih pada pak Fahmi Basya karena karyanya ini merupakan pioner yang mau
menembus area yang belum terbayangkan oleh siapapun. Dalam forum diskusi malam
itu, Sabrang menegaskan bahwa yang utama dicari bukan melulu benar salah,
karena “konstruksi benar-salah” juga persoalan sendiri yang masih perlu kita
bicarakan. Buku karya Pak Fahmi ini lebih bijak dan arif apabila semua hadirin
diskusi melihatnya sebagai ijtihad untuk mencari sebuah kebenaran. Lebih dalam
lagi, Sabrang MDP memberikan pengantar diskusi dengan memberi penjelasan elegan
mengenai kebenaran dari sebuah “kebenaran”. Dengan lincahnya pencipta lagu Sebelum Cahaya itu mengurai dan mengorganisir
cara berfikir hadirin diskusi agar mempunyai titik pandang yang tepat, serta
sikap yang proporsional terhadap tema buku yang sedang dan akan didiskusikan
bersama. Sabrang menguraikan teori “Blawuritas Kebenaran” dengan
menggunakan analogi lensa fokus kamera.
Mengenai “konstruksi-benar-salah ia mengurai: Bahwa segala
sesuatu tidak bisa hanya diringkus dalam dua kotak benar atau salah. Realitas
tidak sesederhana itu, kenyataan tidak hitam putih. Sabrang menggunakan contoh
lensa fokus sebuah kamera. Ketika kita memotret bunga kalau lensanya tidak
fokus, nanti bisa kita lihat hasilnya blawur. Tapi hasil yang blawur itu benar
atau salah? Kan hasilnya tetap benar bahwa itu
“bunga” meskipun blawur. Blawurnya sesuatu itu tidak mempengaruhi dan
mengurangi kebenaran. Tergantung informasi yang masuk dan pemahaman kita blawur
atau tidak. Karena aslinya banyak hal di dunia ini aslinya masih berposisi
blawur, bahkan pun ilmu-ilmu
pengetahuan resmi yang ada. Dalam ilmu matematika, kimia, fisika, biologi,
sosiologi apalagi ilmu sosial-antropologi dan ilmu sejarah mempunyai tingkat keblawuran yang berbeda.
Khusus matematika dia sangat-sangat jelas karena semua yang
dibangun adalah berdasarkan logika kebenaran yang disusun dari yang paling
kecil/paling simple. Contoh: 4×4 adalah jelas 16, karena kita tahu bahwa
terbukti 4+4+4+4=16. Jadi jelas bahwa matematika perkembangannya berdasarkan
kebenaran-kebenaran kecil untuk membuktikan kebenaran yang lebih besar. Sedikit
agak mem-blawur pada fisika karena ia menggunakan alat logika
kebenaran matematika untuk mencoba menjelaskan konstruksi alam semesta. Sebab
itulah terjadi “rumus”, karena faktor-faktor yang ada di alam diketahui oleh
fisika, misalnya tinggi,volume, kecepatan,massa etc.
Jika variabel-variabelnya diketahui maka outputnya bisa diketahui. Tetapi blawuritas pasti terjadi, karena tidak
mungkin dan akan sangat susah untuk mengetahui semua faktor yang
ada di alam dengan presisi yang
pasti. Lebih naik lagi keblawuran pada ilmu kimia, karena itu rumus-rumusnya
tidak banyak tetapi masih menggunakan matematika. Lebih blawur lagi adalah Biologiyang sudah tidak punya rumus, karena faktor dan
variabelnya amat sangat banyak. Maka yang didapat dalam biologi bukan ilmu pasti, tetapi ilmu tendensi,trend gejalanya seperti apa, maka treatmentnya seperti
ini dan seterusnya. Jadi ilmu biologi dan kedokteran itu aslinya “ilmu kiro-kiro”, tetapi perkiraan yang terpelajar: educated guess. Jadi sampai ke biologi saja semakin blawur lagi sebuah
kebenaran.
Blawuritas semakin ruwet dan kompleks ketika masuk ilmu sosial dan ilmu sejarah. Anda kemarin kentut
berapa kali? Pasti susah mengetahui jawaban pastinya kecuali dengan
mengira-ngira. Tetapi kebenaran pastinya tidak bisa dikonfirmasikan. Disinilah
perlunya kita masuk “konfirmasi sejarah” dan konsistensi dari informasi yang
tersisa untuk mengkonstruksi sebuah jalan cerita sejarah. Sebenar-benarnya
cerita sejarah tidak ada yang mampu mengkonfirmasi kepastiannya, karena kentut
kita kemaren saja kita tidak punya kepastian. Apalagi persoalan Borobudur, Nabi
Sulaiman, yang sejarahnya terjadi berpuluh dan beratus tahun yang lalu.
Selanjutnya menanggapi isi buku karya Pak Fahmi Basya,
Sabrang menyoroti 40 bukti serta argumentasi yang diajukan oleh penulis untuk
membangun kesimpulan bahwa Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman.
Bukti-bukti itu adalah: satu,
Plat emas di temukan di kolam istana ratu Boko, yang merupakan bukti benda, dan
untuk membuktikannya perlu melihat sendiri.Dua,Istana
yang hilang diatas ketinggian seperti surga yang hilang sisa peninggalan Nabi
Sulaiman yang diidentifikasi di Candi Boko. Hal ini didukung penemuan bahwa di
sana ada stupa Borobudur yang tertinggal di area Candi Boko. Tiga, Sepotong stupa arupadatu sebagai
bukti pemindahan, stupa yang di Boko masih jelas reliefnya yang diborobudur
tidak jelas (blawur), meskipun masih ada
penjelasan dan pembuktian lainnya seperti: erosi, tertimbun batu, terjadi gesekan dll, tetapi teori
itu masuk kategori possible.
Diskusi makin gayeng manakala
secara spesifik Sabrang menyoroti bukti ke-lima: mengenai
arupadatu yang berbeda dengan yang ada di Borobudur dan kecepatan pemindahan
Istana ratu boko ke area Borobudur
ini melebihi kecepatan cahaya. Melebihi
kecepatan Cahaya inilah yang
membuat insting fisikawan Sabrang melek, karena dalam Agama
Fisika, asumsi ini sudah terhitung “murtad”. Bukti-bukti ilmiah empiris
menunjukkan bahwa hingga saat ini tidak ada benda yang mampu menandingi
kecepatan Cahaya. Karena dia membutuhkan energi yang tidak terbatas. Benda
sekecil elektron. tidak bisa mengikuti kecepatan cahaya. Hanya Foton benda tak
bermasa yang merupakan benda tercepat di alam semesta, yang mendekati kecepatan
cahaya.
Selanjutnya Sabrang berbicara lincah, seperti
menari-narikan wacana dan teori fisika yang kaya: tentang E=MC2,
Teori Kondensasi, Absolut Nol, pendinginan Zat, Gozon,Jin Nabi
Sulaiman, dkk, seolah sedang makan kacang goreng, dengan begitu ringan
dan santainya, yang membuat hadirin diskusi kian mlongo.
Pembacaan dengan perspektif fisika dan matematika ini sesungguhnya
masih sangat panjang dan detil, guna mengklarifikasi dan mengkonfirmasi tiap
poin bukti-bukti yang diajukan oleh Pak Fahmi Basya dalam bukunya. Intinya 40
pembuktian yang ada dalam buku harus kita sikapi dengan tepat. Dengan
background teori Blawuritas, konstruksi dan struktur
kebenaran, kita dapat menemukan seberapa jelas dan seberapa blawur. Jauh lebih
penting adalah buku ini membuka pintu baru bagi generasi muda untuk melakukan
riset-riset mengenai peninggalan sejarah dan warisan peradaban Nusantara yang
selama ini masih minim.
“The Borobudur Code”
Anda tentu pernah mendengar
wacana wilayah Sleman,
yang diidentikkan dengan Nabi Sulaiman,Wanasaba dan negeri Saba’, dan Boko dengan Ratu Bilqis, dan berbagai
misteri sejarah yang lain menyangkut Pulau Jawa. Benarkah itu semua?.
Sebagaimana forum-forum Maiyah yang lain, ketika malam kian melarut
dan dingin, justru saat-saat itulah suasana pergulatan fikiran dan perenungan
diskusi terasa semakin semarak dan “panas”. Atmosfer itulah yang terasa diSewelasan, manakala moderator meminta KH. Fahmi
Basya untuk menjelaskan dan menceritakan penelitiannya selama 33 tahun mengenai
misteri Borobudur.
Sebelum mengemukakan isi bukunya,
Pak Fahmi bercerita pernah menulis Matematika Islam di tahun 1986 dan baru
tahun 2004 diterima sebagai matapelajaran di IAIN Jakarta, dan terdaftar secara
internasional. Di Matematika
Islam 3, Pak Fahmi menemukan teori
piramida 23, yang jika dilihat struktur dan susunannya di Bumi
itu hanya Borobudur yang bisa mewakili piramida 23, karena itulah saat itu
keluar klaim dari beliau bahwa Borobudur ini adalah peninggalan Nabi Sulaiman.
Karena di zaman Nabi Sulaiman-lah disebutkan ada
orang ahli atau berilmu kitab yang dihubungkan dengan bangunan. Hal itu menimbulkan polemik di
internet, sampai akhirnya pihak penerbit buku Matematika Islam (Ufuk) meminta untuk menulis buku
khusus tentang MisteriBorobudur,
yang dua tahun kemudian menjadi buku: Indonesia
Negeri Saba’.

Menanggapi gugatan fisika dari
Sabrang MDP, Pak Fahmi mengakui bahwa dirinya memang “murtad” dari Ilmu Fisika.
Alasannya adalah: “Ketika Rasulullah mi’raj, beliau
itu kira-kira masih berada dalam galaksi atau keluar dari galaksi? Pasti keluar
dari galaksi. Galaksi terdekat dari galaksi kita adalah galaksi Andromeda, jaraknya 2
juta tahun cahaya. Kalau Rasulullah Mi’raj melewati Andromeda dan galaksi yang
lainnya dengan menggunakan kecepatan cahaya, minimal Rasul membutuhkan waktu 4
tahun cahaya untuk kembali ke Bumi. Tetapi tidak, perjalanan itu ditempuh hanya
dalam waktu beberapa jam waktu bumi: “pasti Nabi Muhammad terbang dengan
kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya, inilah alasan saya murtad dari
fisika” terang Pak Fahmi.
Lalu di Matematika sendiri Pak Fahmi juga mengakui telah
murtad. Karena di matematika harus ada “rumus umum”, padahal ternyata di alam
tidak ada rumus umum, karena di alam itu rumus umum tolak ukurnya adalah teori
evolusi. Allah sendiri mengatakan: Dia menciptakan
apa yang dia kehendaki. Karenanya di kimia tidak ada rumus umum.
Inilah awal mula murtadnya dari matematika, dan menulis Matematika Islam.
Pak Fahmi menegaskan bahwa makin lama, makin yakin bahwa
Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman. Lebih menukik ke inti pembicaraan,
beliau membuka tabir rahasia yang menjadi penyebab awal beliau menulis buku Misteri Borobudur. Yaitu sebuah penemuan “password
rahasia” di arupadhatu Borobudur, yang tersusun dalam angka : 84517. Di tahun 1979 zaman Soeharto,
ketika password ini ditemukan, Pak Fahmi pernah di penjara di LP Sukamiskin
yang berdekatan dengan kamar tahanan Soekarno, beliau bermimpi bertemu Soekarno
yang mengangguk-angguk. Ini satu kode gaib mengenai
misteri Borobudur. Dengan password 84517 ini dapat membuka berangkas harta
peninggalan masa silam yang apabila salah putar atau keliru membukanya
kemungkinan akan meledak. Jadi menurut Pak Fahmi, kita merdeka 17 Agustus 1945,
itu bukan asal merdeka tetapi juga meninggalkan password 84517 supaya kita bisa
membuka warisan masa silam negeri kita. Inilah sebab mengapa dalam mimpi
Soekarno mengangguk-angguk. Jadi susunan 84517 memang keramat dan magis, bukan
susunan angka sembarangan, yang terkait misteri Borobudur. Maka orang yang
menyusun password ini sudah mampu meramalkan tanggal kemerdekaan NKRI yang
lebih hebat dari Joyoboyo. Angka 19 berhubungan dengan jumlah huruf dalam Bismillah. Dari susunan angka tersebut, dapat
membuka kunci-kunci rahasia lain yang terpendam dibawah Borobudur dan ini
merupakan PR bagi kita semua pewaris bangsa Nusantara.
Dengan temuannya itu Pak Fahmi sebenarnya datang dengan
membawa PR-PR besar, untuk para hadirin guna menguak misteri yang masih panjang
dan rumit. Tentang korelasi penempatan letak Bismillah dalam
Al Qur’an dan korelasinya dengan stupa-stupa di Borobudur, hingga dititik
dimana Pak Fahmi menunjukkan penemuan makam Sulaiman di salah satu Stupa.
Temuan-temuan ini dikombinasikan dengan pernik-pernik bukti di Borobudur, misal
posisi sudut air, berat atom, dan hubungannya sebutan “Tanah Air” yang lazim di
tanah Nusantara, yang dikaitkan dengan ayat-ayat Al Qur’an. Temuan-temuan yang
disampaikan berhasil memancing rasa kegelisahan dan rasa penasaran dari para
hadirin diskusi. Kemudian diungkapkan sedikitnya ada 9 alasan mengapa Pak Fahmi
berani menyimpulkan bahwa Indonesia adalah negeri Saba’. Salah satu asumsi yang
dibangun adalah mengenai sebutan “Sultan”, atau sulthon, yang sangat familiar di sekitar
area Borobudur, lalu ini dihubungkan dengan kisah Nabi Sulaiman yang mengatakan
pada hud-hud: awas kalau dia datangkan kepadaku dengan sulthon yang nyata. Lebih
lanjut Pak Fahmi mengurai data-data sejarah dalam Al Qur’an yang
mengindikasikan bahwa letak negeri saba’adalah di wilayah Nusantara. Dalam
ekspedisi Borobudur ke 46 kalinya, bersama anak SMP, beliau menceritakan kalau
anak-anak sekolah sudah mempercayai bahwa Borobudur adalah peninggalan Nabi
Sulaiman, melaui video di Youtube.
Malam itu, dilengkapi dengan gambar visual dan
video-video, Pak Fahmi Basya benar-benar membawa fikiran hadirin untuk pergi
menziarahi peninggalan-peninggalan Borobudur sebagai pusaka Nusantara yang amat
kaya dan masih penuh misteri. Hadirin diajak “berjalan-jalan” mengunjungi dan
menelusuri banyak temuan-temuan purbakala diantaranya: Jabal Setumbudisekitar area Borobudur dengan
awan-awan yang tawaf, Batu dan Stupa pahatan purba di
area Borobudur, Koin emas Majapahit bertuliskan Kalimat Syahadat yang disalah
pahami bertuliskan huruf Cina. Fungsi Borobudur yang bertentangan dengan
tradisi peribadatan Budha karena di Borobudur tidak ada ruang model Vihara,
Tongkat dan Makam Nabi Sulaiman, Konsep Baldhatun
Tayyibatun dengan Sorga yang diidentifikasi
berada di Indonesia atau tanah Nusantara, gathuk-nya
kisah di Surat Saba’ dengan fakta kehidupan negeri Nusantara. Lanskap kosmis
peta Nusantara dan dunia yang membentuk gambar manusia bersimpuh shalat,
Hubungan Al-Ikhlas dengan Sila pertama “Ketuhanan yang Maha Esa”, Banyaknya
nama Saba’ yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara, Negeri elok gambaran Al
Qur’an yang indikatif dengan kondisi negeri Nusantara. Sangat panjang dan luas
data-data pembuktian yang dikemukakan oleh Pak Fahmi malam itu, sehingga
hadirin perlu juga menelaah dan mencermati isi buku yang ditulisnya
“Puing-puing Fakta dan Nilai-nilai Sejarah”
Di sesi berikutnya, Ibu
Nadhrotussariroh selaku moderator yang mengawal lalu lintas diskusi membuka
termin dialog dengan peserta diskusi. Lima tanggapan dan pertanyaan muncul dari
hadirin, yang saat itu pasti penuh rasa penasaran. Hafiz dari Semarang,
menceritakan pernah mengikuti pengajian Pak Fahmi Basya sebelumnya di Gramedia
Surabaya dan menanyakan tentang kesimpulan Pak Fahmi tentang kota Ya’juj dan
Ma’juj sebagai Yogyakarta dan Mojokerto. Hubungan jewish Yahudi dengan Jawa,
juga apakah penulisan buku ini sudah didiskusikan dengan umat Budha?
Selanjutnya dari Candra yang berangkat langsung dari daerah Boko bertanya
tentang Koin Majapahit. Apakah koin itu benar peninggalan Majapahit ataukah benar
peninggalan Cina, karena sebelum Majapahit berdiri pernah ada pasukan Cina yang
menyerang Singasari. Habib dari Ponorogo mengkonfirmasi beberapa hal, bahwa
wacana umum mengatakan Borobudur peninggalan dinasti Syailendra, tentang Shin dalam hadist Nabi itu adalah
Syailendra, bukan Cina, tentang Java tel Aviv. Kemudian Enji dari Serang Banten
menanyakan bagaimana benturan dengan wacana-wacana khalayak tentang sejarah
Borobudur, lebih lanjut tentang teori konsistensi, dari penelitian selama 33
tahun tersebut? Muhson dari Giwangan, mengajukan pertanyaan: dengan bukti-bukti
yang dipaparkan apakah Borobudur itu peninggalan Nabi Sulaiman, ataukah buatan
umat Nabi Sulaiman.
Berbagai pertanyaan dan tanggapan
yang muncul dari jamaah diskusi nampak mencerminkan suatu
kegelisahan yang sama, yakni gugatan mengenai fakta sejarah. Apakah semua yang
diceritakan oleh Pak Fahmi benar-benar terjadi? Dan apabila itu adalah sebuah
fakta sejarah, bagaimana cara untuk mendamaikan temuan ini dengan wacana-wacana
dan cerita sejarah yang telah mapan dipercaya banyak orang, terutama dari
kalangan agama lain yang mengakuisisi Borobudur sebagai bagian dari kepercayaan
Agamanya?. Menjawab poin letak daerah Ya’juja
dan Ma’juja Pak Fahmi
tidak memastikan kebenaran dari temuannya. Hanya saja ada fakta-fakta yang
indikatif yang mengarah bahwa Ya’juj adalah Yogyakarta dan Ma’juj adalah
Mojokerto. Karena “karta” berarti kota, berarti Yogjakarta adalah kota Yogja
yang identik dengan Ya’juja, dan Mojokerto adalah kota Mojo yang kemungkinan adalah
kota Ma’juja. Juga dari cerita-cerita sejarah, dan bukti-bukti adanya pakubumi
di bukit Tidar. Pak Fahmi melanjutkan dengan memaparkan bahwa sebenarnya ada
banyak cerita rakyat di Nusantara, tetapi sayangnya tidak dengan bahasa Sains,
sehingga sulit dijadikan pembuktian. Kemudian mengenai Arsy ratu Boko sesuai
laporan Hud-hud,
yang indikatif dengan tempat penyembahan yang ada di Kompleks Candi Boko yang
dipindah ke lokasi Borobudur. Tentang koin majapahit itu sudah disahkan sebagai
koin kerajaan Majapahit karena ada cap lambang garuda ditengah koin.
Selanjutnya dalam pemaparannya,
Pak Fahmi menceritakan kisah-kisah yang apabila tak cermat menyimak dan
mendengarnya sekilas, nampak seolah kisah-kisah yang tak berhubungan. Beliau
mengutarakan Hubungan Nabi Daud-Syailendra (“syaila-Indera”) itu artinya adalah
Raja Gunung, dan ini berarti adalah Nabi Daud. Selanjutnya beliau memaparkan
kronologis kisah mengenai “Arsyil Adzim” kerajaan yang menjulang tinggi keatas
yang diucapkan oleh burung hud-hud. Kemudian potret kisah Ketika Nabi Musa
mendapat wahyu untuk memukulkan tongkatnya ke laut maka terjadilah jurang yang
dalam. Hingga Nabi Musa mengajak rakyat masuk negeri “Ardhol Muqaddas” bumi
yang suci, kemudian tentang Nabi Daud dan Bani Israil dan berbagai kisah lain
yang panjang sebagai bukti bahwa Kerajaan Sulaiman ada di area pulau Jawa.

Ikut menambahkan dan menjawab
pertanyaan mengenai asal-usul bangsa Jawa, Sabrang MDP mengungkap misteri
asal-usul Siti Hajar yang akhirnya ditemukan bahwa nama Siti Hajar cocok dengan
peradaban dan kebudayaan di Jawa. Apakah semua itu benar? Jawabnya adalah tetap
“blawur”, karena kita tidak bisa mengkonfirmasi fakta sejarah yang terputus,
sehingga kebenarannya juga tergantung “perkiraan” serta konsistensi informasi
dan teori yang ada. Kemudian tentang asal muasal bangsa Jawa yang sering
diwacanakan Cak Nun, Sabrang mengaku tidak terlalu paham juga dengan
detil-detil argumentasinya. Yang menarik adalah urusan konsistensi, misalnya
tentang dinasti syailendra dan hubungannya dengan Nabi Daud maka itu pasti
sebelum Nabi Isa dan itu pasti terjadi sebelum masehi. Khusus mengenai password “84517”, Sabrang memperkirakan betapa
ampuh dan saktinya orang yang menyusun password tersebut karena mampu
meramalkan secara persis tahun kemerdekaan Indonesia. Itu berarti orang ini
mengerti persis tentang asal mula Masehi, tahu bahwa dalam perjalanan masehi
itu ditambahi dua bulan yakni Juli-Agustus, harus tahu juga ada 10 hari yang
dihilangkan dalam perjalanannya. Andaikan itu benar karya Soekarno berarti
Soekarno mengerti kebenaran sejarah yang sesungguhnya, mengapa beliau
menyimpannya sebagai Rahasia? Ini yang aneh dan ganjil yang perlu diuji
konsistensinya. Tentang tulisan Cina dan Arab di Zaman Nabi Sulaiman, ini
menimbulkan kecurigaan baru, bagaimana mungkin tulisan Cina dan Arab menjadi
tulisan yang populer di Jawa? Padahal perkembangan bahasa Arab pun sangat
dinamis.
“Semua data tentang Borobudur dan Nabi Sulaiman adalah hal
menarik dan menggairahkan, namun kita juga perlu menghitung dan mengatur
konsistensinya. Inilah PR kita semua. Dan untuk membuat sebuah konstruksi
sejarah baru, yang mampu melawan sejarah mainstream harus mempunyai kejelasan
dan kekonsistenan yang tidak kalah dengan konstruksi sejarah yang ada. Teori
konsistensi ini yang penting untuk kita uji terus menerus, karena untuk
membangun sejarah Nabi Sulaiman tidak bisa dilakukan sepotong-sepotong, harus
dengan view yang selengkap mungkin.” tutup
Sabrang.
Menjelang tengah malam, moderator menutup diskusi dengan
mengajak para peserta diskusi untuk melanjutkan kerja penelitian yang masih
panjang ini. Dari diskusi Sewelasan malam
itu pasti ada sekian banyak file-file wacana yang akan menghuni alam fikiran hadirin
yang datang. Memang bukan “kepastian mutlak” atau faktualitas yang akan diperdebatkan
dari isi buku tersebut, apalagi buku ini mengkaji sejarah dan peradaban manusia
masa silam. Sampai kapanpun tak akan kita peroleh data yang fixed dan “pasti benar”
mengenai situasi sejarah yang telah terjadi di era yang sekian lama berlalu.
Perpustakaan EAN menyelenggarakan Diskusi Buku rutin setiap
bulan, selain menciptakan tradisi kebaikan mendiskusikan buku juga membudayakan
Diskusi Buku ditengah maraknya E-Book, juga berkurangnya minat membaca buku dan
kunjungan keberbagai perpustakaan.
Ke #6 edisi Diskusi Buku yang telah terselenggara lebih
merupakan pintu pembuka, dan “benih” awal
dari tanaman ilmu pengetahuan yang memerlukan telaah yang sangat panjang.
Sepeti halnya diskusi malam itu, sebungkus oleh-oleh penting dari sebuah kajian
sejarah Borobudur, memang bukan terutama kebenaran pasti dari sebuah kejadian
masa silam, melainkan “Ibrah” ,values, nilai luhur sejarah, dari kebesaran dan kejayaan
Nusantara. Setidaknya itu yang dapat dibawa pulang sebagai bahan belajar dan
renungan, di tengah padatnya lalu lintas kehidupan.
(Ahmad F. Hakim, RPK) di Edit kembali Oleh (Dj.S//Belantara Papua)