Kamis, 07 Mei 2015

EDIT FOTO SESUKAMU

A. 1. Foto pertama ( senja hari di Pantai Katapop bersama @Fachrudin Nasich & Fajar )


     2. Foto kedua setelah diotak - atik

   
      3. Setelah foto dianggap cukup bagus silahkan jika mau dikasih bingkai


Ketiga foto diatas hanya sekedarnya saja..seprti juga yg di bawah ini :

1.

2. 

Untuk yang dibawah ini mungkin agak sedikit keren....:

1. 

2. 

3. 

4. 

5. 

He..he..jika anda mau mencoba dipermonggokan !!!

Minggu, 03 Mei 2015

SEJARAH ISLAM INDONESIA YANG DITUTUPI OLEH DUNIA

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)

“AL-Qur’ an adalah pedoman hidup manusia, semua sejarah ada di dalamnya, bukan hanya sejarah dari negeri arab atau timur tengah, tetapi juga indonesia dan seluruh dunia..”

Tahukah anda? Bahwa sebenarnya Kronologi Sejarah Islam Indonesia dan peradabannya ada di ayat-ayat AL-Qur’anSuroh An-Naml 16-48 dan di Suroh Saba 12-41 ? entah mengapa ada yang menutup-nutupi kebenaran sejarah islam dan peradabannya yg sangat maju di negeri Indonesia ini, mungkin juga di karenakan orang-orang indonesia terdahulu yang telah berbuat zhalim terhadap dirinya sendiri, hingga mereka mendustakan ayat-ayat ALLAH SWT dan menganggapnya sihir yg diada-adakan, sehingga ALLAH SWT pun tidak meridhoi peradaban islam di Indonesia dikarenakan orang-orang Indonesia terdahulu tidak bersyukur akan kebesaran ALLAH SWT dan mensyukuri nikmatNYA. Berikut Kronologi Sejarah Islam Indonesia dan Peradaban Islam di Indonesia yg di ambil dari AL-Qur’an :

بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang).
An Naml:16 ﴿

Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata”.
An Naml:17 ﴿

Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).
An Naml:18 ﴿

Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”;
An Naml:19 ﴿

maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”.
An Naml:20 ﴿

Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: “Mengapa aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir.
An Naml:21 ﴿

Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang”.

Burung Hud-hud menemukan Ratu Balqis di Negeri Saba (INDONESIA)


An Naml:22 ﴿

Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.
An Naml:23 ﴿

Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.
An Naml:24 ﴿

Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk,
An Naml:25 ﴿

agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.
An Naml:26 ﴿

Allah, tiada Tuhan Yang disembah kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai ‘Arsy yang besar”.
An Naml:27 ﴿

Berkata Sulaiman: “Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.
An Naml:28 ﴿

Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan”
An Naml:30 ﴿

Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.
An Naml:31 ﴿

“Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”.
An Naml:32 ﴿

Berkata dia (Balqis): “Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)”.


An Naml:33 ﴿

Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada ditanganmu: maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”.
An Naml:34 ﴿

Dia berkata: “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.
An Naml:35 ﴿

Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu”.
An Naml:36 ﴿

Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata: “Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.
An Naml:37 ﴿

Kembalilah kepada mereka sungguh kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina”.
An Naml:38 ﴿

Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”.
An Naml:39 ﴿

Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”.
An Naml:40 ﴿

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.
An Naml:41 ﴿

Dia berkata: “Rubahlah baginya singgasananya; maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya)”.
An Naml:42 ﴿

Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: “Serupa inikah singgasanamu?” Dia menjawab: “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri”.
An Naml:43 ﴿

Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir.
An Naml:44 ﴿

Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana”. Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”. Berkatalah Balqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam”.
An Naml:45 ﴿

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud saudara mereka Shaleh (yang berseru): “Sembahlah Allah”. Tetapi tiba-tiba mereka (jadi) dua golongan yang bermusuhan.
An Naml:46 ﴿

Dia berkata: “Hai kaumku mengapa kamu minta disegerakan keburukan sebelum (kamu minta) kebaikan? Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat”.
An Naml:47 ﴿

Mereka menjawab: “Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu”. Shaleh berkata: “Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji”.
An Naml:48 ﴿

Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan.
Saba’:12 ﴿

Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.
Saba’:13 ﴿

Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.
Saba’:14 ﴿

Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.
Saba’:15 ﴿

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”.
Saba’:16 ﴿

Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.
Saba’:17 ﴿

Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.
Saba’:18 ﴿

Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan dengan aman.
Saba’:19 ﴿

Maka mereka berkata: “Ya Tuhan kami jauhkanlah jarak perjalanan kami”, dan mereka menganiaya diri mereka sendiri; maka Kami jadikan mereka buah mulut dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur.
Saba’:20 ﴿

Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman.
Saba’:21 ﴿

Dan tidak adalah kekuasaan iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu.
Saba’:40 ﴿

Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?”.
Saba’:41 ﴿

Malaikat-malaikat itu menjawab: “Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu”.


Membaca judul diatas, tentu banyak orang yang akan mengernyitkan dahi, sebagai tanda ketidakpercayaannya. Bahkan, mungkin demikian pula dengan Anda. Sebab, Nabi Sulaiman AS adalah seorang utusan Allah yang diberikan keistimewaan dengan kemampuannya menaklukkan seluruh makhluk ciptaan Allah, termasuk angin yang tunduk di bawah kekuasaannya atas izin Allah. Bahkan, burung dan jin selalu mematuhi perintah Sulaiman.

Menurut Sami bin Abdullah al-Maghluts, dalam bukunya Atlas Sejarah Nabi dan Rasul, Nabi Sulaiman diperkirakan hidup pada abad ke-9 Sebelum Masehi (989-931 SM), atau sekitar 3.000 tahun yang lalu (akan tetapi kematian nabi sulaiman AS baru diketahui disaat tongkatnya dimakan oleh rayap didalam AL-Qur’an QS.Saba ayat 14, jadi bisa jadi nabi sulaiman baru diketahui meninggal pada saat para Jin mendirikan borobudur yg belum terselesaikan). Sementara itu, Candi Borobudur sebagaimana tertulis dalam berbagai buku sejarah nasional, didirikan oleh Dinasti Syailendra pada akhir abad ke-8 Masehi atau sekitar 1.200 tahun yang lalu. Karena itu, wajarlah bila banyak orang yang mungkin tertawa kecut, geli, dan geleng-geleng kepala bila disebutkan bahwa Candi Borobudur didirikan oleh Nabi Sulaiman AS.

Candi Borobudur merupakan candi Budha. Berdekatan dengan Candi Borobudur adalah Candi Pawon dan Candi Mendut. Beberapa kilometer dari Candi Borobudur, terdapat Candi Prambanan, Candi Kalasan, Candi Sari, Candi Plaosan, dan lainnya. Candi-candi di dekat Prambanan ini merupakan candi Buddha yang didirikan sekitar tahun 772 dan 778 Masehi.

Lalu, apa hubungannya dengan Sulaiman? Benarkah Candi Borobudur merupakan peninggalan Nabi Sulaiman yang hebat dan agung itu? Apa bukti-buktinya? Benarkah ada jejak-jejak Islam di candi Buddha terbesar itu? Tentu perlu penelitian yang komprehensif dan melibatkan berbagai pihak untuk membuktikan validitas dan kebenarannya.

Namun, bila pertanyaan di atas diajukan kepada KH Fahmi Basya, ahli matematika Islam itu akan menjawabnya; benar. Borobudur merupakan peninggalan Nabi Sulaiman yang ada di tanah Jawa.

Dalam bukunya, Matematika Islam 3 (Republika, 2009), KH Fahmi Basya menyebutkan beberapa ciri-ciri Candi Borobudur yang menjadi bukti sebagai peninggalan putra Nabi Daud tersebut. Di antaranya, hutan atau negeri Saba, makna Saba, nama Sulaiman, buah maja yang pahit (kerajaan Majapahit), dipindahkannya istana Ratu Saba ke wilayah kekuasaan Nabi Sulaiman, bangunan yang tidak terselesaikan oleh para jin, tempat berkumpulnya Ratu Saba, dan lainnya.

Dalam Alquran, kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Saba disebutkan dalam surah An-Naml [27]: 15-44, Saba [34]: 12-16, al-Anbiya [21]: 78-81, dan lainnya. Tentu saja, banyak yang tidak percaya bila Borobudur merupakan peninggalan Sulaiman.

Di antara alasannya, karena Sulaiman hidup pada abad ke-10 SM, sedangkan Borobudur dibangun pada abad ke-8 Masehi. Kemudian, menurut banyak pihak, peristiwa dan kisah Sulaiman itu terjadi di wilayah Palestina, dan Saba di Yaman Selatan, sedangkan Borobudur di Indonesia.

Tentu saja hal ini menimbulkan penasaran. Apalagi, KH Fahmi Basya menunjukkan bukti-buktinya berdasarkan keterangan Alquran. Lalu, apa bukti sahih andai Borobudur merupakan peninggalan Sulaiman atau bangunan yang pembuatannya merupakan perintah Sulaiman?

Dalam flying book itu KH Fahmi Basya mengungkapkan dengan bukti-bukti ilmiah bahwa candi borobudur bukanlah hasil kebudayaan hindu, sebagaimana kita ketahui selama ini. Candi borobudur sudah ada sejak lama, jauh sebelum hindu ada di nusantara ini. Berdasarkan penelitiannya, candi borobudur itu bahkan di bangun oleh nabi sulaiman dengan bantuan para jin pada jaman ketika nusantara belum berbentuk seperti sekarang, yaitu masih berupa daratan yang luas. Banyak data dan analisis yang dipaparkan dalam flying book itu sebagai bukti terhadap argumen ini.

Untuk mengetahui salah satu bukti argumen itu, sebelumnya ada baiknya kita mengetahui simbol lafadz bismillah. Simbol itu bisa dibuat dengan melukis sebuah 7 buah lingkaran sama besar yang salah satu lingkaran berada di tengah dan dikelilingi oleh 6 lingkaran lainnya.

Masing-masing lingkaran mewakili satu huruf pada lafadz bismillah yaitu ba, sin, mim, alif, lam, lam, dan ha’ . Jika keenam lingkaran di luar masing-masing titik pusatnya secara berurutan dihubungkan dengan garis kemudian lingkaran-lingakaran yang diluar itu dihapus, jadilah bentuk itu sebagai segi enam dengan lingkaran di tengahnya. Itulah simbol lafadz bismillah.

Sekarang mari kita amati salah satu kontur yang banyak terukir di batu-batu candi Borobudur. inilah kontur itu.

ternyata bentuk itu banyak sekali kita temukan pada batu-batu di candi Borobudur. Segi enam dengan lingkaran ditengahnya. Apakah arti bentuk itu? Ternyata simbol segi enam dengan lingkaran di bawahnya adalah simbol lafadz bismillah. Demikianlah salah satu bukti analisa yang disampaikan oleh KH Fahmi Basya dalam flying booknya.

Selain itu, dalam flying book tersebut juga diungkapkan secara ilmiah bahwa candi borobudur dahulunya bukan di tempat seperti yang sekarang, melainkan sempat mengalami pemindahan dengan kecepatan pemindahan melebihi kecepatan cahaya (60.000 kali). Hal ini mengakibatkan kontur candi borobudur mengalami peluruhan. Pemindahan candi ini sesuai cerita dalam alqur’an : “Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (QS.An Naml:40)

Selama ini yang sering diungkapkan adalah bahwa pemindahan itu dari yaman ke palestina, namun sesungguhnya bukti nyatanya belum pernah ditemukan.

Lalu menurut penelitian KH Fahmi Basya, dimana letak candi Borobudur sebelum dipindahkan? Jawabannya adalah di kawasan candi boko yang terletak di kabupaten bantul. Di kawasan itu nampak bekas-bekas adanya candi besar. Namun, candi besar itu hilang, entah bagaimana hilangnya, yang jelas bukan karena hancur atau runtuh. Bahkan di kawasan candi boko ditemukan serpihan-serpihan sisa candi yang konturnya mirip dengan kontur candi borobudur. Hanya saja, kontur yang ada di kawasan candi boko ini tampak lebih jelas dibandingkan dengan kontur yang ada di candi borobudur. Hal ini disebabkan peluruhan yang terjadi akibat pemindahan dengan kecepatan 60.000 kali kecepatan cahaya tadi. (Lihat gambar diatas)

Lebih jauh lagi KH Fahmi Basya membahas sisi lain dari candi borobudur, yaitu bahwa desain candi borobudur sangat kompleks dan memiliki makna yang dalam. Misalnya relief yang ada di dinding-dindingnnya, ukuran volume candi yang membentuk balok al quran ( 23x23x12 = 6348 = jumlah ayat dalam alqur’an berserta basmalah), bahkan bukti foto google art yang menunjukkan bahwa puncak candi membentuk sebuah sebuah garis lurus yang menghubungkannya dengan rukun syaam dan hajar aswad ka’bah. Dan banyak lagi fakta-fakta yang dikemukakan dalam flying book itu.

Nama saba’ sendiri, di dapat dari Alqur’an, dimana secara singkat Alqur’an (surat An Naml dan surat Saba’) menceritakan bahwa negeri saba’ dahulu merupakan sebuah negeri yang amat makmur, subur tanahnya dan maju bangsanya. Dalam negeri itu pernah hidup Nabi-Nabi terdahulu seperti nabi daud AS, Nabi Sulaiman AS, dan juga seorang ratu perempuan yang amat melegenda yaitu ratu Bilqis. Namun, negeri itu dimusnahkan oleh Allah SWT dengan sebuah banjir yang amat besar karena kemusyrikan bangsa di negeri itu, yaitu kereka melekukan ibadah menyembah matahari.

Sementara itu, dalam sebuah legenda yang sangat terkenal di dunia, konon pernah ada sebuah negeri yang karakteristiknya hampir mirip dengan yang diceritakan alqur’an itu. Negeri itu bernama negeri Atlantis. Negeri itu berada di sebuah daratan yang luas dan subur, dan dihuni oleh bangsa maju dan makmur, unggul dalam hal irigasi pertanian. Daratan luas itulah yang disebut sebagai benua Atlantis yang mana benua itu musnah pada jaman es. Seiring tenggelamnya daratan Atlantis, maka musnahlah negeri Atlantis yang begitu makmur itu.

Berdasarkan kemiripan kisah dalam Al Qur’an dan legenda yang berkembang di hampir sekuruh oenjuru dunia itu, bisa jadi, negeri saba’ yang dimaksudkan dalam Al Quran itu tak lain adalah negeri Atlantis yang dulu mendiami daratan Atlantis yang kini sudah musnah akibat banjir besar di jaman es. Benar atau tidaknya memeang masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.


Selama ini hampir kebanyakan ilmuwan mengatakan bahwa negeri saba’ yang disebutkan dalam Alquran itu terletak di daerah Yaman, bahkan dalam banyak tafsir Al Quran pun mengatakan demikian. Namun, melalui ekspedisi dan penelitiannya, yang hasilnya dibuat dalam bentuk flying boook, KH Fahmi Basya menyimpulkan bahwa bukanlah daerah Yaman letak sebenarnya negeri Saba’ itu, melainkan ia berada di sebuah wilayah dengan pusatnya di pulau Jawa, dimana dahulu wilayah itu mencakup wilayah Indonesia dan masih merupakan sebuah daratan yang luas atau berupa sebuah benua. Berikut saya tuliskan 14 bukti yang dikemukakan oleh KH fahmi Basya yang mengungkapkan bahwa negeri saba’ dalam Al Qur’an itu bukan terletak di Yaman melainkan di Indonesia.

PERTAMA. Nama saba’ itu sendiri. “..dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.” (QS. 27:22). Di Indonesia ada nama dan tempat bernama saba’ (tempat pertemuan) dan ada tempatnya. sementara di Yaman tidak ada. Yang ada hanya sabuun(prasasti), tapi tidak ada a=nama tempat bernama saba’

Kedua, pekerjaan jin yang tidak selesai ketika mengetahui Sulaiman telah wafat.”Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan” (QS Saba [34]: 14). Saat mengetahui Sulaiman wafat, para jin pun menghentikan pekerjaan terakhirnya di Borobudur diakhir abad ke-8 Masehi. Di Borobudur, terdapat patung yang belum tuntas diselesaikan. Patung itu disebut dengan Unfinished Solomon.


Ketiga, para jin diperintahkan membangun gedung yang tinggi dan membuat patung-patung. “(nabi Sulaiman As) berkata ‘rubahlah baginya singgasananya, maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk org-org yg tidak mengenalnya” (AN-Naml ayat 41)

disini “singgasana” yg dimaksud adalah borobudur, nabi sulaiman As sengaja membuat ukiran-ukiran patung seperti patung budha, padahal itu hanyalah kamuflase agar mengetahui siapakah kaum muslimin yg menyadari kamuflase tersebut.

Dan inilah jawaban dari kamuflase yg diciptakan nabi sulaiman As tersebut yg tersembunyi diborobudur selama ini yg ternyata ada di dalam Al-qur’an :

“para jin itu membuat untuk sulaiman apa yg dikehendakinya dari gedung-gedung yg tinggi dan patung-patung dan piring-piring yg (besarnya) seperti kolam dan periuk yg tetap (berada diatas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada allah), dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yg berterima kasih.” (Qs.Saba ayat 13)

gedung-gedung tinggi adalah candi perambanan, patung2 dan piring2 yg besarnya seperti kolam dan periuk yg tetap berada diatas tungku itu adalah borobudur. Di Yaman tidak ada bangunan semacam ini, tapi di Indonesia ada, yaitu candi Borobudur dan candi perambanan. candi Borobudur terletak di sebuah lembah, dan itulah lembah semut, lembah terindah di dunia.

Keempat, Sulaiman berbicara dengan burung-burung dan hewan-hewan. (QS An-Naml [27]: 20-22). Reliefnya juga ada. Bahkan, sejumlah frame relief Borobudur bermotifkan bunga dan burung. Terdapat pula sejumlah relief hewan lain, seperti gajah, kuda, babi, anjing, monyet, dan lainnya.


Kelima, kisah Ratu Saba dan rakyatnya yang menyembah matahari dan bersujud kepada sesama manusia.”Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk” (QS An-Naml [27]: 22). Menurut Fahmi Basya, Saba artinya berkumpul atau tempat berkumpul. Ungkapan burung Hud-hud tentang Saba, karena burung tidak mengetahui nama daerah itu. “Jangankan burung, manusia saja ketika berada di atas pesawat, tidak akan tahu nama sebuah kota atau negeri,” katanya menjelaskan. Ditambahkan Fahmi Basya, tempat berkumpulnya manusia itu adalah di Candi Ratu Boko yang terletak sekitar 36 kilometer dari Borobudur. Jarak ini juga memungkinkan burung menempuh perjalanan dalam sekali terbang. Dan di Yaman tidak dijumpai tempat semacam itu, sementara di Indonesia tempat semacam itu ada yaitu di kawasan bukit candi Boko dan simbol kerajaan majapahit “surya majapahit” (simbol yg membuktikan bahwa kerajaan majapahit dahulu pernah menyembah matahari, tetapi mereka sadar itu ialah sesat dan memilih agama Islam, Pada lambang Majapahit yang berupa delapan sinar matahari terdapat beberapa tulisan Arab, yaitu shifat, asma, ma’rifat, Adam, Muhammad, Allah, tauhid dan dzat. Kata-kata yang beraksara Arab ini terdapat di antara sinar-sinar matahari yang ada pada lambang Majapahit ini. ). Di kawasan bukit candi boko ada tempat yang digunakan untuk menyembah matahari yang berupa bangunan di atas bukit menghadap ketimur, ke arah matahari terbit. (Lihat gambar paling atas)


Keenam, Saba ada di Indonesia, yakni Wonosobo. Dalam Alquran, wilayah Saba ditumbuhi pohon yang sangat banyak. “Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”.(QS Saba [34]: 15). Dalam kamus bahasa Jawi Kuno, yang disusun oleh Dr Maharsi, kata ‘Wana’ bermakna hutan. Jadi, menurut Fahmi, wana saba atau Wonosobo adalah hutan Saba

Sementara ini dulu yaaa....insyaAllah bersambung...

(Dj.S//Belantara Papua)

BOROBUDUR DAN PENINGGALAN NABI SULAIMAN

Diskusi Buku Sewelasan Perpustakaan EAN Edisi #6 Rabu 11 Februari 2015
Borobudur dan Peninggalan Nabi Sulaiman
Oleh PERPUSTAKAAN EAN  •  7 Maret 2015Dipublikasikan dengan tag Reportase & http://puabar.blogspot.com/





Memasuki separuh perjalanan dibulan Februari,  tepat pada tanggal 11, ada kehangatan berbeda yang terasa di Pendopo utama Rumah Maiyah Kadipiro yang terletak di jalan Wates Gang Barokah, Bantul, Yogyakarta. Sore hari, di ruangan terbuka yang cukup luas itu sudah nampak tikar-tikar yang tergelar rapi, deretan meja-meja kecil yang tertata, peralatan soundsystem yang tegak dibeberapa sudut, layar televisi yang stand by, juga halaman depan yang bersih dan terkondisikan. Ditemani langit senja yang permai, tak ketinggalan tampak beberapa penggiat rumah Maiyah yang berseliweran, berbenah, dan menyiapkan diri menyambut “tamu”.

Malam itu, Perpustakaan EAN bersama aktivis Rumah Maiyah, kembali menyelenggarakan diskusi buku rutin Sewelasan edisi #6, kali ini membedah dan mendiskusikan buku yang sudah cukup populer, kontroversial, dan mendapat sambutan luas dari khalayak: “Borobudur dan Peninggalan Nabi Sulaiman” karya KH. Fahmi Basya. Antusiasme masyarakat, terutama kalangan muda-mudi terhadap tema diskusi, terasa spesial malam itu. Selepas adzan Maghrib, satu persatu hadirin diskusi buku memasuki gerbang rumah Maiyah dan menempatkan diri di gelaran tikar. Setelah Isya’ jamaah diskusi terlihat mulai memenuhi pendopo, panitia memutarkan DVD “Borobudur”,  sebagai ‘hidangan pembuka’ pra-diskusi. Selain penulis buku KH. Fahmi Basya, perpustakaan EAN, malam itu juga menghadirkan Sabrang Mowo Damar Panuluh, fisikawan dan matematikawan muda lulusan Alberta University, Canada, yang publik tanah air lebih mengenalnya sebagai Noe, vokalis Letto Band. Jalannya diskusi malam itu dimoderatori langsung oleh Ibu Nadlrotussariroh, kepala perpustakaan EAN Kadipiro.

Teori “Blawur-itas” Kebenaran

Pukul delapan malam, kedua pembicara dan moderator sudah siap di tengah hadirin. Diskusi dibuka oleh Ibu Nadlrotussariroh dengan memberikan kilasan singkat mengenai forum diskusi buku Sewelasan Perpustakaan EAN yang sudah bergulir  enam edisi dengan berbagai tema dan buku. Sekedar berbagi informasi, beliau menyampaikan bahwa edisi bulan lalu, buku yang didiskusikan  adalah Sekolah Biasa Saja karya Toto Rahardjo. Selanjutnya, beliau menunjuk mas Sabrang MDP sebagai pembicara pertama untuk memberikan pengantar diskusi, sekaligus mengemukakan ulasan-ulasannya mengenai buku Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman.


Sabrang menyampaikan ucapan terima kasih pada pak Fahmi Basya karena karyanya ini merupakan pioner yang mau menembus area yang belum terbayangkan oleh siapapun. Dalam forum diskusi malam itu, Sabrang menegaskan bahwa yang utama dicari bukan melulu benar salah, karena “konstruksi benar-salah” juga persoalan sendiri yang masih perlu kita bicarakan. Buku karya Pak Fahmi ini lebih bijak dan arif apabila semua hadirin diskusi melihatnya sebagai ijtihad untuk mencari sebuah kebenaran. Lebih dalam lagi, Sabrang MDP memberikan pengantar diskusi dengan memberi penjelasan elegan mengenai kebenaran dari sebuah “kebenaran”. Dengan lincahnya pencipta lagu Sebelum Cahaya itu mengurai dan mengorganisir cara berfikir hadirin diskusi agar mempunyai titik pandang yang tepat, serta sikap yang proporsional terhadap tema buku yang sedang dan akan didiskusikan bersama. Sabrang menguraikan teori “Blawuritas Kebenaran” dengan menggunakan analogi lensa fokus kamera.

Mengenai “konstruksi-benar-salah ia mengurai: Bahwa segala sesuatu tidak bisa hanya diringkus dalam dua kotak benar atau salah. Realitas tidak sesederhana itu, kenyataan tidak hitam putih. Sabrang menggunakan contoh lensa fokus sebuah kamera. Ketika kita memotret bunga kalau lensanya tidak fokus, nanti bisa kita lihat hasilnya blawur. Tapi hasil yang blawur itu benar atau salah? Kan hasilnya tetap benar bahwa itu “bunga” meskipun blawur. Blawurnya sesuatu itu tidak mempengaruhi dan mengurangi kebenaran. Tergantung informasi yang masuk dan pemahaman kita blawur atau tidak. Karena aslinya banyak hal di dunia ini aslinya masih berposisi blawur, bahkan pun  ilmu-ilmu pengetahuan resmi yang ada. Dalam ilmu matematika, kimia, fisika, biologi, sosiologi apalagi ilmu sosial-antropologi dan ilmu sejarah mempunyai tingkat keblawuran yang berbeda.

Khusus matematika dia sangat-sangat jelas karena semua yang dibangun adalah berdasarkan logika kebenaran yang disusun dari yang paling kecil/paling simple. Contoh: 4×4 adalah jelas 16, karena kita tahu bahwa terbukti 4+4+4+4=16. Jadi jelas bahwa matematika perkembangannya berdasarkan kebenaran-kebenaran kecil untuk membuktikan kebenaran yang lebih besar. Sedikit agak mem-blawur pada fisika karena ia menggunakan alat logika kebenaran matematika untuk mencoba menjelaskan konstruksi alam semesta. Sebab itulah terjadi “rumus”, karena faktor-faktor yang ada di alam diketahui oleh fisika, misalnya tinggi,volume, kecepatan,massa etc. Jika variabel-variabelnya diketahui maka outputnya bisa diketahui. Tetapi blawuritas pasti terjadi, karena tidak mungkin dan akan sangat susah untuk mengetahui semua faktor yang ada di alam dengan  presisi yang pasti. Lebih naik lagi keblawuran pada ilmu kimia, karena itu rumus-rumusnya tidak banyak tetapi masih menggunakan matematika. Lebih blawur lagi adalah Biologiyang sudah tidak punya rumus, karena faktor dan variabelnya amat sangat banyak. Maka yang didapat dalam biologi bukan ilmu pasti, tetapi ilmu tendensi,trend gejalanya seperti apa, maka treatmentnya seperti ini dan seterusnya. Jadi ilmu biologi dan kedokteran itu aslinya “ilmu kiro-kiro”, tetapi perkiraan yang terpelajar: educated guess. Jadi sampai ke biologi saja semakin blawur lagi sebuah kebenaran.

Blawuritas semakin ruwet dan kompleks ketika masuk ilmu sosial dan ilmu sejarah. Anda kemarin kentut berapa kali? Pasti susah mengetahui jawaban pastinya kecuali dengan mengira-ngira. Tetapi kebenaran pastinya tidak bisa dikonfirmasikan. Disinilah perlunya kita masuk “konfirmasi sejarah” dan konsistensi dari informasi yang tersisa untuk mengkonstruksi sebuah jalan cerita sejarah. Sebenar-benarnya cerita sejarah tidak ada yang mampu mengkonfirmasi kepastiannya, karena kentut kita kemaren saja kita tidak punya kepastian. Apalagi persoalan Borobudur, Nabi Sulaiman, yang sejarahnya terjadi berpuluh dan beratus tahun yang lalu.

Selanjutnya menanggapi isi buku karya Pak Fahmi Basya, Sabrang menyoroti 40 bukti serta argumentasi yang diajukan oleh penulis untuk membangun kesimpulan bahwa Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman. Bukti-bukti itu adalah: satu, Plat emas di temukan di kolam istana ratu Boko, yang merupakan bukti benda, dan untuk membuktikannya perlu melihat sendiri.Dua,Istana yang hilang diatas ketinggian seperti surga yang hilang sisa peninggalan Nabi Sulaiman yang diidentifikasi di Candi Boko. Hal ini didukung penemuan bahwa di sana ada stupa Borobudur yang tertinggal di area Candi Boko. Tiga, Sepotong stupa arupadatu sebagai bukti pemindahan, stupa yang di Boko masih jelas reliefnya yang diborobudur tidak jelas (blawur), meskipun  masih ada penjelasan dan pembuktian lainnya seperti: erosi, tertimbun  batu, terjadi gesekan dll, tetapi teori itu masuk kategori  possible.

Diskusi makin gayeng manakala secara spesifik Sabrang menyoroti bukti ke-lima: mengenai arupadatu yang berbeda dengan yang ada di Borobudur dan kecepatan pemindahan Istana ratu boko ke  area Borobudur ini melebihi kecepatan cahaya. Melebihi kecepatan Cahaya inilah yang membuat insting fisikawan Sabrang melek, karena dalam Agama Fisika, asumsi ini sudah terhitung “murtad”. Bukti-bukti ilmiah empiris menunjukkan bahwa hingga saat ini tidak ada benda yang mampu menandingi kecepatan Cahaya. Karena dia membutuhkan energi yang tidak terbatas. Benda sekecil elektron. tidak bisa mengikuti kecepatan cahaya. Hanya Foton benda tak bermasa yang merupakan benda tercepat di alam semesta, yang mendekati kecepatan cahaya.

Selanjutnya Sabrang berbicara lincah, seperti menari-narikan wacana dan teori fisika yang kaya: tentang E=MC2, Teori Kondensasi, Absolut Nol, pendinginan Zat, Gozon,Jin Nabi Sulaiman, dkk, seolah sedang makan kacang goreng, dengan begitu ringan dan santainya, yang membuat hadirin diskusi kian mlongo.

Pembacaan dengan perspektif fisika dan matematika ini sesungguhnya masih sangat panjang dan detil, guna mengklarifikasi dan mengkonfirmasi tiap poin bukti-bukti yang diajukan oleh Pak Fahmi Basya dalam bukunya. Intinya 40 pembuktian yang ada dalam buku harus kita sikapi dengan tepat. Dengan background teori Blawuritas, konstruksi dan struktur kebenaran, kita dapat menemukan seberapa jelas dan seberapa blawur. Jauh lebih penting adalah buku ini membuka pintu baru bagi generasi muda untuk melakukan riset-riset mengenai peninggalan sejarah dan warisan peradaban Nusantara yang selama ini masih minim.

“The Borobudur Code”

Anda tentu pernah mendengar wacana wilayah Sleman, yang diidentikkan dengan Nabi Sulaiman,Wanasaba dan negeri Saba’, dan Boko dengan Ratu Bilqis, dan berbagai misteri sejarah yang lain menyangkut Pulau Jawa. Benarkah itu semua?. Sebagaimana forum-forum Maiyah yang lain, ketika malam kian melarut dan dingin, justru saat-saat itulah suasana pergulatan fikiran dan perenungan diskusi terasa semakin semarak dan “panas”. Atmosfer itulah yang terasa diSewelasan, manakala moderator meminta KH. Fahmi Basya untuk menjelaskan dan menceritakan penelitiannya selama 33 tahun mengenai misteri Borobudur.

Sebelum mengemukakan isi bukunya, Pak Fahmi bercerita pernah menulis Matematika Islam di tahun 1986 dan baru tahun 2004 diterima sebagai matapelajaran di IAIN Jakarta, dan terdaftar secara internasional. Di Matematika Islam 3, Pak Fahmi menemukan teori piramida 23, yang jika dilihat struktur dan susunannya di Bumi itu hanya Borobudur yang bisa mewakili piramida 23, karena itulah saat itu keluar klaim dari beliau bahwa Borobudur ini adalah peninggalan Nabi Sulaiman. Karena di zaman Nabi Sulaiman-lah disebutkan ada orang ahli atau berilmu kitab yang dihubungkan dengan bangunan. Hal itu menimbulkan polemik di internet, sampai akhirnya pihak penerbit buku Matematika Islam (Ufuk) meminta untuk menulis buku khusus tentang MisteriBorobudur, yang dua tahun kemudian menjadi buku: Indonesia Negeri Saba’.


Menanggapi gugatan fisika dari Sabrang MDP, Pak Fahmi mengakui bahwa dirinya memang “murtad” dari Ilmu Fisika. Alasannya adalah: “Ketika Rasulullah  mi’raj, beliau itu kira-kira masih berada dalam galaksi atau keluar dari galaksi? Pasti keluar dari galaksi. Galaksi terdekat dari galaksi kita adalah galaksi Andromeda, jaraknya 2 juta tahun cahaya. Kalau Rasulullah Mi’raj melewati Andromeda dan galaksi yang lainnya dengan menggunakan kecepatan cahaya, minimal Rasul membutuhkan waktu 4 tahun cahaya untuk kembali ke Bumi. Tetapi tidak, perjalanan itu ditempuh hanya dalam waktu beberapa jam waktu bumi: “pasti Nabi Muhammad terbang dengan kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya, inilah alasan saya murtad dari fisika” terang Pak Fahmi.

Lalu di Matematika sendiri Pak Fahmi juga mengakui telah murtad. Karena di matematika harus ada “rumus umum”, padahal ternyata di alam tidak ada rumus umum, karena di alam itu rumus umum tolak ukurnya adalah teori evolusi. Allah sendiri mengatakan: Dia menciptakan apa yang dia kehendaki. Karenanya di kimia tidak ada rumus umum. Inilah awal mula murtadnya dari matematika, dan menulis Matematika Islam.

Pak Fahmi menegaskan bahwa makin lama, makin yakin bahwa Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman. Lebih menukik ke inti pembicaraan, beliau membuka tabir rahasia yang menjadi penyebab awal beliau menulis buku Misteri Borobudur. Yaitu sebuah penemuan “password rahasia” di arupadhatu Borobudur, yang tersusun dalam angka : 84517. Di tahun 1979 zaman Soeharto, ketika password ini ditemukan, Pak Fahmi pernah di penjara di LP Sukamiskin yang berdekatan dengan kamar tahanan Soekarno, beliau bermimpi bertemu Soekarno yang mengangguk-angguk. Ini satu kode gaib mengenai misteri Borobudur. Dengan password 84517 ini dapat membuka berangkas harta peninggalan masa silam yang apabila salah putar atau keliru membukanya kemungkinan akan meledak. Jadi menurut Pak Fahmi, kita merdeka 17 Agustus 1945, itu bukan asal merdeka tetapi juga meninggalkan password 84517 supaya kita bisa membuka warisan masa silam negeri kita. Inilah sebab mengapa dalam mimpi Soekarno mengangguk-angguk. Jadi susunan 84517 memang keramat dan magis, bukan susunan angka sembarangan, yang terkait misteri Borobudur. Maka orang yang menyusun password ini sudah mampu meramalkan tanggal kemerdekaan NKRI yang lebih hebat dari Joyoboyo. Angka 19 berhubungan dengan jumlah huruf dalam Bismillah. Dari susunan angka tersebut, dapat membuka kunci-kunci rahasia lain yang terpendam dibawah Borobudur dan ini merupakan PR bagi kita semua pewaris bangsa Nusantara.

Dengan temuannya itu Pak Fahmi sebenarnya datang dengan membawa PR-PR besar, untuk para hadirin guna menguak misteri yang masih panjang dan rumit. Tentang korelasi penempatan letak Bismillah dalam Al Qur’an dan korelasinya dengan stupa-stupa di Borobudur, hingga dititik dimana Pak Fahmi menunjukkan penemuan makam Sulaiman di salah satu Stupa. Temuan-temuan ini dikombinasikan dengan pernik-pernik bukti di Borobudur, misal posisi sudut air, berat atom, dan hubungannya sebutan “Tanah Air” yang lazim di tanah Nusantara, yang dikaitkan dengan ayat-ayat Al Qur’an. Temuan-temuan yang disampaikan berhasil memancing rasa kegelisahan dan rasa penasaran dari para hadirin diskusi. Kemudian diungkapkan sedikitnya ada 9 alasan mengapa Pak Fahmi berani menyimpulkan bahwa Indonesia adalah negeri Saba’. Salah satu asumsi yang dibangun adalah mengenai sebutan “Sultan”, atau sulthon, yang sangat familiar di sekitar area Borobudur, lalu ini dihubungkan dengan kisah Nabi Sulaiman yang mengatakan pada hud-hud: awas kalau dia datangkan kepadaku dengan sulthon yang nyata. Lebih lanjut Pak Fahmi mengurai data-data sejarah dalam Al Qur’an yang mengindikasikan bahwa letak negeri saba’adalah di wilayah Nusantara. Dalam ekspedisi Borobudur ke 46 kalinya, bersama anak SMP, beliau menceritakan kalau anak-anak sekolah sudah mempercayai bahwa Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman, melaui video di Youtube.

Malam itu, dilengkapi dengan gambar visual dan video-video, Pak Fahmi Basya benar-benar membawa fikiran hadirin untuk pergi menziarahi peninggalan-peninggalan Borobudur sebagai pusaka Nusantara yang amat kaya dan masih penuh misteri. Hadirin diajak “berjalan-jalan” mengunjungi dan menelusuri banyak temuan-temuan purbakala diantaranya: Jabal Setumbudisekitar area Borobudur dengan awan-awan yang tawaf, Batu dan Stupa pahatan purba di area Borobudur, Koin emas Majapahit bertuliskan Kalimat Syahadat yang disalah pahami bertuliskan huruf Cina. Fungsi Borobudur yang bertentangan dengan tradisi peribadatan Budha karena di Borobudur tidak ada ruang model Vihara, Tongkat dan Makam Nabi Sulaiman, Konsep Baldhatun Tayyibatun dengan Sorga yang diidentifikasi berada di Indonesia atau tanah Nusantara, gathuk-nya kisah di Surat Saba’ dengan fakta kehidupan negeri Nusantara. Lanskap kosmis peta Nusantara dan dunia yang membentuk gambar manusia bersimpuh shalat, Hubungan Al-Ikhlas dengan Sila pertama “Ketuhanan yang Maha Esa”, Banyaknya nama Saba’ yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara, Negeri elok gambaran Al Qur’an yang indikatif dengan kondisi negeri Nusantara. Sangat panjang dan luas data-data pembuktian yang dikemukakan oleh Pak Fahmi malam itu, sehingga hadirin perlu juga menelaah dan mencermati isi buku yang ditulisnya

“Puing-puing Fakta dan Nilai-nilai Sejarah”

Di sesi berikutnya, Ibu Nadhrotussariroh selaku moderator yang mengawal lalu lintas diskusi membuka termin dialog dengan peserta diskusi. Lima tanggapan dan pertanyaan muncul dari hadirin, yang saat itu pasti penuh rasa penasaran. Hafiz dari Semarang, menceritakan pernah mengikuti pengajian Pak Fahmi Basya sebelumnya di Gramedia Surabaya dan menanyakan tentang kesimpulan Pak Fahmi tentang kota Ya’juj dan Ma’juj sebagai Yogyakarta dan Mojokerto. Hubungan jewish Yahudi dengan Jawa, juga apakah penulisan buku ini sudah didiskusikan dengan umat Budha? Selanjutnya dari Candra yang berangkat langsung dari daerah Boko bertanya tentang Koin Majapahit. Apakah koin itu benar peninggalan Majapahit ataukah benar peninggalan Cina, karena sebelum Majapahit berdiri pernah ada pasukan Cina yang menyerang Singasari. Habib dari Ponorogo mengkonfirmasi beberapa hal, bahwa wacana umum mengatakan Borobudur peninggalan dinasti Syailendra, tentang Shin dalam hadist Nabi itu adalah Syailendra, bukan Cina, tentang Java tel Aviv. Kemudian Enji dari Serang Banten menanyakan bagaimana benturan dengan wacana-wacana khalayak tentang sejarah Borobudur, lebih lanjut tentang teori konsistensi, dari penelitian selama 33 tahun tersebut? Muhson dari Giwangan, mengajukan pertanyaan: dengan bukti-bukti yang dipaparkan apakah Borobudur itu peninggalan Nabi Sulaiman, ataukah buatan umat Nabi Sulaiman.

Berbagai pertanyaan dan tanggapan yang muncul dari jamaah diskusi nampak mencerminkan suatu kegelisahan yang sama, yakni gugatan mengenai fakta sejarah. Apakah semua yang diceritakan oleh Pak Fahmi benar-benar terjadi? Dan apabila itu adalah sebuah fakta sejarah, bagaimana cara untuk mendamaikan temuan ini dengan wacana-wacana dan cerita sejarah yang telah mapan dipercaya banyak orang, terutama dari kalangan agama lain yang mengakuisisi Borobudur sebagai bagian dari kepercayaan Agamanya?. Menjawab poin letak daerah Ya’juja dan Ma’juja Pak Fahmi tidak memastikan kebenaran dari temuannya. Hanya saja ada fakta-fakta yang indikatif yang mengarah bahwa Ya’juj adalah Yogyakarta dan Ma’juj adalah Mojokerto. Karena “karta” berarti kota, berarti Yogjakarta adalah kota Yogja yang identik dengan Ya’juja, dan Mojokerto adalah kota Mojo yang kemungkinan adalah kota Ma’juja. Juga dari cerita-cerita sejarah, dan bukti-bukti adanya pakubumi di bukit Tidar. Pak Fahmi melanjutkan dengan memaparkan bahwa sebenarnya ada banyak cerita rakyat di Nusantara, tetapi sayangnya tidak dengan bahasa Sains, sehingga sulit dijadikan pembuktian. Kemudian mengenai Arsy ratu Boko sesuai laporan Hud-hud,  yang indikatif dengan tempat penyembahan yang ada di Kompleks Candi Boko yang dipindah ke lokasi Borobudur. Tentang koin majapahit itu sudah disahkan sebagai koin kerajaan Majapahit karena ada cap lambang garuda ditengah koin.

Selanjutnya dalam pemaparannya, Pak Fahmi menceritakan kisah-kisah yang apabila tak cermat menyimak dan mendengarnya sekilas, nampak seolah kisah-kisah yang tak berhubungan. Beliau mengutarakan Hubungan Nabi Daud-Syailendra (“syaila-Indera”) itu artinya adalah Raja Gunung, dan ini berarti adalah Nabi Daud. Selanjutnya beliau memaparkan kronologis kisah mengenai “Arsyil Adzim” kerajaan yang menjulang tinggi keatas yang diucapkan oleh burung hud-hud. Kemudian potret kisah Ketika Nabi Musa mendapat wahyu untuk memukulkan tongkatnya ke laut maka terjadilah jurang yang dalam. Hingga Nabi Musa mengajak rakyat masuk negeri “Ardhol Muqaddas”  bumi yang suci, kemudian tentang Nabi Daud dan Bani Israil dan berbagai kisah lain yang panjang sebagai bukti bahwa Kerajaan Sulaiman ada di area pulau Jawa.


Ikut menambahkan dan menjawab pertanyaan mengenai asal-usul bangsa Jawa, Sabrang MDP mengungkap misteri asal-usul Siti Hajar yang akhirnya ditemukan bahwa nama Siti Hajar cocok dengan peradaban dan kebudayaan di Jawa. Apakah semua itu benar? Jawabnya adalah tetap “blawur”, karena kita tidak bisa mengkonfirmasi fakta sejarah yang terputus, sehingga kebenarannya juga tergantung “perkiraan” serta konsistensi informasi dan teori yang ada. Kemudian tentang asal muasal bangsa Jawa yang sering diwacanakan Cak Nun, Sabrang mengaku tidak terlalu paham juga dengan detil-detil argumentasinya. Yang menarik adalah urusan konsistensi, misalnya tentang dinasti syailendra dan hubungannya dengan Nabi Daud maka itu pasti sebelum Nabi Isa dan itu pasti terjadi sebelum masehi. Khusus mengenai password “84517”, Sabrang memperkirakan betapa ampuh dan saktinya orang yang menyusun password tersebut karena mampu meramalkan secara persis tahun kemerdekaan Indonesia. Itu berarti orang ini mengerti persis tentang asal mula Masehi, tahu bahwa dalam perjalanan masehi itu ditambahi dua bulan yakni Juli-Agustus, harus tahu juga ada 10 hari yang dihilangkan dalam perjalanannya. Andaikan itu benar karya Soekarno berarti Soekarno mengerti kebenaran sejarah yang sesungguhnya, mengapa beliau menyimpannya sebagai Rahasia? Ini yang aneh dan ganjil yang perlu diuji konsistensinya. Tentang tulisan Cina dan Arab di Zaman Nabi Sulaiman, ini menimbulkan kecurigaan baru, bagaimana mungkin tulisan Cina dan Arab menjadi tulisan yang populer di Jawa? Padahal perkembangan bahasa Arab pun sangat dinamis.

“Semua data tentang Borobudur dan Nabi Sulaiman adalah hal menarik dan menggairahkan, namun kita juga perlu menghitung dan mengatur konsistensinya. Inilah PR kita semua. Dan untuk membuat sebuah konstruksi sejarah baru, yang mampu melawan sejarah mainstream harus mempunyai kejelasan dan kekonsistenan yang tidak kalah dengan konstruksi sejarah yang ada. Teori konsistensi ini yang penting untuk kita uji terus menerus, karena untuk membangun sejarah Nabi Sulaiman tidak bisa dilakukan sepotong-sepotong, harus dengan view yang selengkap mungkin.” tutup Sabrang.

Menjelang tengah malam, moderator menutup diskusi dengan mengajak para peserta diskusi untuk melanjutkan kerja penelitian yang masih panjang ini. Dari diskusi Sewelasan malam itu pasti ada sekian banyak  file-file wacana  yang akan menghuni alam fikiran hadirin yang datang. Memang bukan “kepastian mutlak” atau faktualitas yang akan diperdebatkan dari isi buku tersebut, apalagi buku ini mengkaji sejarah dan peradaban manusia masa silam. Sampai kapanpun tak akan kita peroleh data yang  fixed dan “pasti benar” mengenai situasi sejarah yang telah terjadi di era yang sekian lama berlalu.

Perpustakaan EAN menyelenggarakan Diskusi Buku rutin setiap bulan, selain menciptakan tradisi kebaikan mendiskusikan buku juga membudayakan Diskusi Buku ditengah maraknya E-Book, juga berkurangnya minat membaca buku dan kunjungan keberbagai perpustakaan.

Ke #6 edisi Diskusi Buku yang telah terselenggara lebih merupakan pintu pembuka, dan “benih” awal dari tanaman ilmu pengetahuan yang memerlukan telaah yang sangat panjang. Sepeti halnya diskusi malam itu, sebungkus oleh-oleh penting dari sebuah kajian sejarah Borobudur, memang bukan terutama kebenaran pasti dari sebuah kejadian masa silam, melainkan “Ibrah” ,values, nilai luhur sejarah, dari kebesaran dan kejayaan Nusantara. Setidaknya itu yang dapat dibawa pulang sebagai bahan belajar dan renungan, di tengah padatnya lalu lintas kehidupan.

(Ahmad F. Hakim, RPK) di Edit kembali Oleh (Dj.S//Belantara Papua)